PENYEDERHANAAN (PELAKSANAAN) ADAT, PERLUKAH?

April 8, 2008

PENYEDERHANAAN (PELAKSANAAN) ADAT, PERLUKAH?

(Tanggapan terhadap Tulisan Drs. Lurus Tarigan, Minggu 18 February 2007)

Oleh:

Erond Litno Damanik, M.Si

Pengantar.

Tak dapat dipungkiri bahwa bagi sebahagian orang, pelaksanaan adat istiadat khususnya pada adapt istiadat Batak tidak lebih merupakan sarana pemborosan materi, waktu dan tenaga. Tidak hanya itu, menyoal ritus ini adalah bahwa banyaknya ritual adapt istiadat yang dikenal serta tampaknya harus senantiasa dilakukan dan dilalui.

Sejak manusia dilahirkan, bahkan sebelum ia dilahirkan pun, beranjak akil balig, menikah sampai kemudia ia meninggal tidak terlepas dari rangkaian upacara adat. Belum lagi karena tuntutan agama (memberi nama, sunat, naik sidi, selamatan sintua dan sebagainya), keberhasilan sekolah (selamatan sarjana, master, dan doctor), atau karena keberhasilan karir (syukuran professor, jadi walikota, bupati, gubernur, kadis atau kanwil) atau juga karena keberhasilan hidup seperti mendirikan rumah baru.

Dalam banyak hal, terkadang ritus itu dilakukan dengan serba meriah yang menghabiskan sejumlah dana dan menyita banyak waktu yakni sejak merencanakan suatu perhelatan sampai pada akhirnya perhelatan itu selesai. Belum lagi fase-fase yang harus dilalui dan dilakukan yang terkadang memakan waktu berhari-hari. Ambil saja contoh dalam perhelatan perkawinan adat Batak, yaitu sejak penjajakan yang dilakukan oleh orangtua, pembicaraan mahar (tuhor), menjemput pengantin (maralap), penyatuan janji (martuppol) sampai pada pemberkatan nikah dan resepsi. Belum lagi setelah usai resepsi, maka kedua pengantin didampingi oleh orangtua datang berkunjung kerumah pengantin perempuan. Waktu yang tersita bisa jadi dalam hitungan minggu serta memerlukan dana yang tidak sedikit serta melibatkan banyak pihak dalam lingkaran huta maupun Dalihan na Tolu. Begitu pula disaat ritual adapt meninggal dunia, khususnya kematian yang sempurna (sayur matua) maka hari sejak meninggal sampai penguburan bisa menelan waktu 4-5 hari dan biaya yang tidak sedikit.

Singkatnya, bagi mereka yang bekerja terkait waktu, tidak mustahil maka pelaksanaan ritual adapt istiadat itu akan mengganggu kinerja mereka. belum lagi jika mereka itu adalah orang yang terlibat langsung dengan penyelenggara perhelatan ataupun memiliki peran dan fungsi sebagaimana arahan dalihan na tolu maka hampir dapat dipastikan akan terjadi pemborosan waktu (jam) kerja. Fenomena lainnya, melihat perkembangan demi perkembangan ritual adapt Batak adalah peralihan fungsi perhelatan tersebut menjadi sarana performa keberadaan. Artinya adalah bahwa tidak jarang, perhelatan itu menjadi sarana pertunjukkan identitas pribadi, keluarga atau famili melalui berbagai symbol-simbol yang melekat pada diri mereka. akibatnya, bagi orang lain yang belum sepantasnya melakukan hal sedemikian (dari segi ekonomi) memakasakan diri untuk melakukan hal sama meski itu dengan mengalihkan asset yang ia miliki.

Konsepsi Pemikiran

Adat istiadat merupakan konsepsi pemikiran yang lahir sebagai rangkaian pemikiran manusia yang bersumber dari hakikat kemajuan akalnya. Jika sebelumnya disebut bahwa adat lebih sederhana jika dibanding dengan pada masa kini, maka keadaan itu terjadi sebagai dampak pemikiran manusia yang telah berubah. Oleh karena itu, adat adalah bentukan manusia yang tidak lahir begitu saja yang bertujuan untuk mengembangkan seni hidupnya. Demikian pula peran dan fungsi Dalihan na tolu, juga merupakan bentukan pikiran manusia untuk mempererat persaudaraan yang telah atau akan dibina. Hanya saja, dalam implikasi selanjutnya, akibat pengaruh agama dan kemajuan ilmu pengetahuan, penghargaan kearah itu mengalami pengikisan.

Dalam upacara perkawinan misalnya, pihak hula-hula (bride giver) akan memegang peran yang maha tinggi karena telah memberikan putrinya kepada boru (bride taker) serta keturunannya. Oleh karena itu, dia harus disembah dan tabu untuk ditentang. Selanjutnya, dongan sabutuha adalah tempat bertukar pikiran sekalian dalam menunjang keberhasilan perhelatan perkawinan tersebut. Pranata-pranata ataupun norma seperti itu merupakan kontruksi pemikiran manusia Batak kepada orang-orang yang disampingnya sehingga melahirkan adapt istiadat yang rapi sekalian rumit dan menelan waktu dan biaya yang tidak sedikit jumlahnya.

Pada masa kini, konsepsi pemikiran terhadap ritual adat diperluas lagi sehingga lebih kompleks yaitu adanya inovasi-inovasi yang dilakukan terhadap keharmonisan perhelatan. Jika pada awalnya, perhelatan diiringi oleh musik tradisional, maka tidak akan lengkap rasanya jika tidak diiringi oleh alunan musik keyboard atau musik tiup (band), atau tanpa shuting video, papan bunga atau tanpa pelaminan. Jika kita melihat jauh kedalmnya, maka sebenarnya tidak ada perbedaan makna yang terjadi. Malah yang sering terlihat adalah adanya fenomena pemaksaan diri untuk melakukan hal sama walau itu bukan kelas sosialnya.

Oleh karenanya, telah terjadi semacam kemunduran dalam menilai urgensi ritual adapt istiadat karena hanya melihat penyelenggaraan itu berdasarkan sejumlah performa luar seperti berapa jumlah dana yang dihabiskan, berapa jumlah undangan yang hadir serta berapa roll film, papan bunga yang hadir dan segala macam yang terkait dengan itu. Jarang sekali kita menilai suatu perhelatan dengan melihat hakikat dasar dan substansinya yang hakiki, yang adalah keberartian adat tersebut. Orang cenderung melihat keberhasilan suatu penyelenggaraan perhelatan berdasarkan berbagai attribute seperti yang disebut diatas tanpa ada pembatasan kemampuan.

Dalam banyak hal, dalam kondisi sekarang ini, dengan pergulatan yang rumit dengan waktu maka mustahil adapt seperti ini dapat dipertahankan. Setiap orang akan menilai dirinya dengan waktu dan waktu berkaitan dengan produktivitas dan produktivitas bersangkut paut dengan discipline kerja serta sejumlah materi yang akan diterima. Tidak ada suatu alas an yang menyebutkan bahwa adapt tidak dapat disederhanakan. Hanya saja yang pertama dilakukan adalah merubah paradigma kita terhadap substansi adapt itu, sekalian dengan berbagai pertimbangan rasional seperti waktu.

Oleh karena adapt adalah hasil kontruksi pemikiran, maka dampak langsung yang diterimapun adalah kepuasan pikiran. Aspek lain adalah Jika dikuantifikasikan dengan ekonomi, maka hal ini tidak memiliki korelasi langsung karena sebernanya masing-masing penyelenggara perhelatan telah mempersiapkan sejumlah dana untuk perhelatan itu (terlepas dari mana sumbernya) sehingga sebelumnya ia telah memikirkan kearah itu. Meski demikian, penyelenggaran upacara adapt yang menyita waktu berhari-hari lamanya, tetap saja menimbulkan permasalahan bagi orang lain dan darisanalah paradigma pemikiran tentang adat bisa dimulai.

Penyederhanaan Pelaksanaan Adat

Melihat dan mencermati tata laksana adapt istiadat orang Batak dewasa ini, maka tidak menutup kemungkinan seandainya penyederhanaan ritual itu dilakukan. Hal seperti ini perlu dipertimbangkan mengingat aspek efisiensi dan efekstivitas materi, dana dan waktu yang diperlukan untuk itu.

Kemungkinan orang akan menilai bahwa upaya penyederhaan adapt itu adalah tindakan menyimpang atau telah mencoba melakukan perlawanan terhadap warisan budaya leluhur atau malah dicap sebagai orang tak beradab. Adalah (alm) Amudi Pasaribu, mantan rector salah satu PTS di Medan, yang mencoba melemparkan gagasan seperti itu. Namun, tampaknya gagasan itu belum membuahkan hasil karena semakin intensifnya orang batak melakukan berbagai ritual-ritual adapt. Dalam era kekinian, dimana setiap orang telah dibatasi oleh waktu maupun jarak maka tidaklah mungkin setiap pelaksanaan adat itu dapat dihadiri dengan intens apalagi ritual itu direncanakan dengan menyita waktu lama. Batasan waktu dan jarak seperti ini, menjadi persoalan utama dalam merencakan sebuah perhelatan adat.

Dalam pandangan dunia Barat misalnya, waktu bagi mereka adalah uang. Bukan berarti melulu materi tetapi cenderung adalah disiplin kerja dan management waktu. Perspektif ini kian jelas dan nyata bagi kepribadian mereka sehingga ketika mereka melihat keadaan di dunia ketiga misalnya, yang tampak bagi mereka adalah bahwa kita lebih senang bermalas-malasan, merngutamakan kehidupan komunalistik, kurang memiliki orientasi kedepan dan jauh dari kehidupan mereka yang individualistis dan sangat menghargai waktu. Ada kalanya dalam beberapa gagasan penyederhanaan adat itu, pastilah banyak ditentang oleh pihak lain apalagi dengan kondisi masyarakat kita Indonesia yang komunalistis

Dalam masyarakat Simalungun misalnya, melalui lembaga kerapatan adat yakni Partuha Maujana Simalungun telah merintis kearah itu, sehingga beberapa bagian dalam peraturan adat telah disederhanakan, seperti bagian mangulosi, pembagian jammbar (potongan daging), begitu pula dengan pembagian tuhor (mahar). Belum lagi dalam tata laksana perhelatannya yang lebih praktis seperti jamuan makan yang bukan lagi mengunakan piring dan cangkir, tetapi telah dibungkus sedemkian rupa sehingga berbagai tugas tertentu telah hilang sehingga penyelenggaraan perhelatan lebih ringkas dan praktis. Sehingga tidaklah berlebihan bhwa diantara seluruh etnik Batak, maka penyelenggaraan perhelatan adat Simalungun adalah paling singkat dan ringkas pelaksanaanya.

Sungguhpun terdapat penyederhanaan bagian adapt dan pesta dalam adapt Simalungun, namun tidak melahirkan pertentangan dikalangan pendukung kebudayaan itu. Hal ini dapat wujud karena hal ihwal dalam implikasi penyederhanaan tersebut adalah dilakukan oleh para perintis penyederhanaan itu. Artinya, jika terjadi suatu penyederhanaan terhadap tata laksana adapt maupun bagian adapt, maka yang pertama dalam melakukan setelah adanya penyederhanaan itu adalah agent penyederhana tadi. Dengan begitu, masyarakatpun dapat menilai bahwa penyederhanaan itu dilakukan untuk efisinesi dan efektivitas waktu, materi dan tenaga.

Dengan demikian, adat, sebagai sebuah kerangka pemikiran tidak tertutup untuk disederhanakan sepanjang tidak mengubah substansinya. Adalah benar bahwa Adat do nabalga, adat do na gelleng (besar kecilnya adat adalah tetap adat). Hanya dengan cara seperti itulah, maka upaya kita untuk menyederhanakan adapt itu dapat dilakukan. Disamping itu, penting pula bagi kita untuk memikirkan factor lain seperti waktu orang lain yang kita undang, maupun waktu kita sebagai penyelenggara perhelatan. Semoga!

Penulis: Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial

Lembaga Penelitian

Universitas Negeri Medan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: