KOMPLEKSITAS HUBUNGAN UMMAT ISLAM DAN KRISTEN DI INDONESIA

April 8, 2008

KOMPLEKSITAS HUBUNGAN UMMAT ISLAM DAN KRISTEN DI INDONESIA

Harmoni dan disharmoni hubungan antara ummat Islam dan Kristen di Indonesia tidak bisa dijelaskan tanpa mengaitkannya dengan hubungan historis kedua agama tersebut di masa lalu. Agama Islam telah lebih dulu ada dan tersebar di kerajaan-kerajaan pesisir kepulauan ketika agama Kristen masuk ke Indonesia. Sekalipun ada beberapa teori tentang proses kedatangan agama Islam ke Indonesia, tapi pendapat yang dominan dalam banyak literatur cenderung mengakui bahwa agama Islam pada mulanya disebarkan bersamaan dengan kegiatan perdagangan rempah-rempah yang dilakukan oleh kelompok pedagang India dan Arab. Bukti-bukti tertua tentang keberadaan agama Islam di kepulauan Indonesia menunjuk ke abad 13, sekalipun secara teoritis mungkin sekali jauh sebelum itu Islam telah tersebar di Indonesia. Tapi sampai sebelum masuk dan berkuasanya bangsa-bangsa Barat di kepulauan Asia Tenggara, Islam sekalipun telah menyebar di kota-kota pelabuhan, belum merupakan agama yang dominan.

Jatuhnya kerajaan Malaka ke tangan Portugis di tahun 1511 menghadirkan dua fenomena penting di kepulauan Asia Tenggara. Pertama peristiwa ini merupakan awal dimulainya babak kolonialisme Barat dengan segala implikasinya yang berlangsung (dengan segala pasang surutnya) selama kurang lebih 400 tahun dan baru berakhir setelah perang dunia ke 2. Kedua peristiwa ini merupakan awal perbenturan dan pertentangan antara Islam dengan agama Kristen di kepulauan Asia Tenggara.

Meluas dan semakin dominannya Islam di kepulauan Indonesia, yang tidak terbendung sekalipun penguasa kolonial Belanda berusaha mengendalikannya, antara lain disebabkan hadirnya Islam sebagai simbol perlawanan terhadap rezim kolonial. Berfungsinya Islam sebagai simbol perlawanan telah menyebabkan agama ini menyebar dan berfungsi sebagai benteng untuk menghalangi perluasan kolonialisme di Indonesia. Tidaklah mengherankan bila kemudian ada pengamat yang menyebut bahwa kolonialisme Baratlah yang justru telah memungkinkan Islam berkembang begitu cepat dan luas di Indonesia.

Sementara agama Kristen yang memasuki kawasan ini mulanya datang bersamaan dengan rezim kolonialisme Portugis dan Spanyol. Penyebarannya berlangsung di kawasan-kawasan dimana pengaruh raja-raja Islam tidak begitu kuat dan di tempat dimana solidaritas penggunaan Islam sebagai simbol perlawanan belum begitu terbentuk.

Hubungan Islam dan Kristen di Indonesia dari sudut historis, pada masa kolonial berdasarkan pengamatan permulaan yang sangat kasar akan saya bagi dalam 3 model pola hubungan. Ketiga pembagian ini saya dasarkan atas analisis historis dan hubungannya dengan situasi masa kini atas fenomena yang terjadi di Ambon, Sumatera Utara dan Jawa[1] Ketiga model itu adalah pertama model konfrontasi yang dicirikan dengan terbenturkannya dua komunitas yang relatif sama besar dalam satu “perang terbuka” yang keras, berdarah dan berlangsung lama, seperti yang terjadi di Ambon dan kawasan Maluku pada abad ke 17. Model konflik ini kemudian berakhir menjadi model kerjasama yang erat sebelum akhirnya, disebabkan oleh alasan-alasan yang kompleks, berakhir kembali dengan konflik dan “perang terbuka” sebagaimana yang saat ini berlangsung di Maluku.

Kedua model polarisasi dimana komunitas Islam dan Kristen mulanya tumbuh sebagai dua komunitas terpisah dan tidak punya sejarah perbenturan dalam satu konflik terbuka, seperti antara komunitas Islam dan Kristen di daerah pedalaman Sumatera Utara. Kedua komunitas ini secara geografis terpisah dan secara politik oleh rezim kolonial benar-benar dijaga agar tidak saling terbenturkan. Melalui kebijakan politik kolonial Belanda, program misionaris kristenisasi diarahkan kepada suku-suku pedalaman yang masih menganut agama suku, seperti yang dilakukan oleh misionaris Jerman di tanah Batak (Sumatera Utara).[2] Pemerintah kolonial Belanda untuk menghindari ketegangan Islam – Kristen menetapkan peraturan keras yang melarang para misionaris menyebarkan agama Kristen di kawasan-kawasan Islam. Kedua komunitas kemudian tumbuh sebagai dua entitas yang terpisah, berkembang sendiri-sendiri tidak memunculkan konflik besar antar ummat dan terhindar dari “perang agama”. Dapat dikatakan justru komunitas model ini yang sampai sekarang bisa menghindari konflik-konflik besar yang berakhir dengan perang terbuka.

Ketiga model integrasi dimana minoritas Kristen tumbuh ditengah-tengah komunitas mayoritas Islam dalam satu komunitas yang secara etnik dan kultural sama dan dari segi geografis menyatu sebagaimana yang ada di pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dapat dikatakan minoritas Kristen di sini kebanyakan berasal dari orang-orang Islam yang pindah ke agama Kristen. Disebabkan oleh alasan-alasan kultur dan politik kolonial, benturan dalam bentuk perang terbuka antara dua komunitas agama ini tidak terjadi, tapi konflik terpendam selalu ada dan secara kadangkala muncul kepermukaan. Konflik terpendam yang muncul kepermukaan itu tampil dalam bentuk serangan komunitas Islam terhadap simbol-simbol agama, seperti gereja milik minoritas Kristen.

Perbedaan historis ketiga model hubungan ini dapat membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan corak konflik antara ummat Islam dan Kristen yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia saat ini. Pada komunitas dengan pengalaman historis model konfrontasi di Ambon dan model polarisasi di Sumatera Utara , konflik dimungkinkan timbul karena kompetisi dalam bidang-bidang ekonomi, politik dan kekuasaan lokal terutama di Ibukota Propinsi. Solidaritas kelompok yang didasarkan pada ikatan agama yang sama , selama ini, baik secara terang-terangan maupun diam-diam berhadapan dengan kelompok agama lain untuk „bertempur“ memperebutkan pusat-pusat ekonomi , kekuasaan dan politik lokal.

Pada era kekuasaan rezim Soeharto yang represif dimana pendekatan militer dipakai untuk mengendalikan keadaan , pertempuran itu berlangsung di bawah permukaan dan tidak tampil dalam bentuk pertempuran fisik secara terbuka. Ketika rezim Soeharto jatuh dan militer tidak bisa lagi melakukan tindakan yang represif untuk menyelesaikan konflik, pertempuran lama di bawah permukaan tampil ke atas. Pertarungan untuk memperebutkan kepentingan kelompok agama, kemenangan dan kekalahan dalam pertarungan itu selama ini dilanjutkan secara terbuka.

Pada komunitas dengan pengalaman historis model integrasi, konflik terjadi dalam bentuk serangan sepihak yang dilakukan ummat Islam karena merasa posisi demografis mereka terancam oleh laju kristenisasi ummat Islam di Jawa. Jadi berbeda dengan di Ambon dan di Medan, pertempuran memperebutkan pusat ekonomi, kekuasaan dan politik lokal antara Islam dan Kristen bukanlah merupakan isu yang penting di Jawa. Alasan utama untuk melakukan „pertempuran“ terhadap tokoh maupun institusi Kristen adalah pemurtadan ummat Islam yang dianggap dilakukan secara sistematis oleh pihak Kristen. Sejak zaman kolonial sampai saat ini pertarungan itu mencari bentuk lain yakni pihak Islam melakukan kegiatan membentengi diri ummat sendiri agar tidak menjadi Kristen dan melakukan agitasi untuk mengancam pihak Kristen agar tidak agresif memasuki kawasan Kristen. Hanya bila ada situasi memungkinkan atau dikondisikan agar memungkinkan, baru pihak Islam melampiaskan perlawanan mereka dengan cara menyerang dan membakar gereja sebagai simbol kristenisasi.

Uraian sekilas di atas memperlihatkan bahwa secara historis, hubungan antara Islam dan Kristen sejak awal diwarnai ketegangan yang menyulitkan harmonisasi hubungan antar agama. Pihak Islam menuduh bahwa pemerintah kolonial Belanda berperan aktiv memberikan kebijakan yang menguntungkan pihak Kristen secara sosial, politik dan ekonomi serta juga berperan dalam program Kristenisasi ummat Islam di Jawa.[3] Sejak awal abad 20, ummat Islam yang jumlahnya begitu banyak di Jawa, memandang pemerintah kolonial Belanda tidak lagi hanya sebagai penjajah, tapi juga sebagai pengancam eksistensi Islam di Indonesia. Sejumlah organisasi Islam kemudian terbentuk untuk merespons terancamnya eksistensi Islam terhadap ekspansi Kristen yang didukung oleh penguasa kolonial. Salah satu organisasi Islam yang timbul karena alasan-alasan ini adalah Muhammadiyah di tahun 1912, yang kini tumbuh sebagai oraganisasi massa Islam terbesar kedua setelah Nahdlatul Ulama.[4]

Ketika kolonialisme hengkang dan Indonesia memperoleh kemerdekaannya di tahun 1945, hubungan antara ummat Islam dengan Kristen di negara baru ini dimulai tanpa bisa meninggalkan warisan beban historis yang tidak menguntungkan itu. Pada era inilah dimulai relasi hubungan antara Islam yang dianut mayoritas rakyat Indonesia dengan Negara sebagai institusi yang mengatur hidup bangsa ini.[5] Parlemen hasil Pemilu I di tahun 1955 menghasilkan gambaran kegagalan keinginan politisi Islam untuk memperjuangkan secara konstitusional Islam sebagai dasar negara. Sekalipun dua partai Islam besar yakni NU dan Masyumi telah memperjuangkannya, tapi partai-partai yang tidak bercorak agama, termasuk partai komunis, menolak gagasan itu.[6] Sejak itu sebagian politisi Islam bukannya berhenti memperjuangkan obsesi Negara Islam, tapi tetap bergerak, mengatur strategi, mengalami pasang surut untuk tetap berkeinginan mendirikan negara Islam. Sebagian politisi Islam yang lain menolak ide mendirikan negara Islam tapi memperjuangkan Islam sebagai landasan kultural kehidupan bernegara.

Di luar jalur perjalanan politisi Islam yang ingin menempatkan Islam baik sebagai ideologi negara maupun sebagai tatanan nilai yang dominan dalam negara, ummat Islam di lapisan bawah mula-mula berusaha menemukan keseimbangan baru dalam berhubungan dengan saudara-saudaranya yang beragama Kristen. Jika sebelumnya pada era kolonialisme politik kolonial tidak menguntungkan mereka untuk saling menjalin hubungan yang harmonis, maka hengkangnya kolonial potensial untuk merukunkan hubungan antar penduduk sekalipun mereka menganut agama yang berbeda. Di beberapa daerah usaha ini berhasil, seperti misalnya di Sulawesi Utara, Sumatera Utara ataupun Maluku, dimana penduduk bisa rukun saling membantu mendirikan rumah ibadat, saling kunjung mengunjungi pada hari besar agama masing-masing, saling membantu dan bergaul akrab tanpa mengedepankan perbedaan agama. Tapi itu berlangsung tidak di semua tempat Indonesia, dan di beberapa tempat yang tidak banyak itupun hubungan yang rukun tersebut tidak bertahan lama.

Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor langsung maupun tidak yang menyebabkan mengapa kerukunan itu tidak berlangsung di seluruh tempat di Indonesia dan tidak berlangsung pula dalam waktu yang lama di tempat yang kerukunan itu sebenarnya memungkinkan.

Pertama ummat Islam di Indonesia merupakan komunitas yang dinamik dari segi ajaran dan pemahaman kepada Islam. Ini mempengaruhi perubahan serta corak keislaman mereka, termasuk batas-batas hubungan antara Islam dan bukan Islam sesuai pandangan Islam yang mereka pahami. Pada komunitas dimana terdapat kerukunan antar ummat Islam dan Kristen kemudian terjadi perenggangan yang bukan disebabkan oleh hal-hal dari luar, tapi dari dalam ajaran Islam itu sendiri. Berkembangnya beragam aliran Islam dalam 25 tahun belakangan ini, dari yang tradisionalis, modernis, neomodernis sampai fundamentalis turut mempengaruhi dinamik ajaran pemahaman Islam disatu pihak, dan dipihak lain menguatkan eksklusivisme Islam dalam menyelesaikan persoalan-persoalan benturan sosiologis dengan kelompok bukan Islam.

Kedua, kegagalan dan kekecewaan politisi Islam bertarung dalam meletakkan ideologi Islam dalam negara serta kegagalan mereka memperjuangkan di level elit apa yang mereka sebut sebagai aspirasi Islam, termasuk mengangkat keterpurukan perekonomian ummat Islam, berimbas ke lapisan komunitas Islam. Proses terimbasnya kekecewaan politisi Islam menjadi kekecewaan ummat Islam itu berlangsung melalui jalur ulama dan pemuka agama, karena banyak, kalau tidak hampir seluruhnya, politisi Islam yang kecewa itu juga adalah ulama yang secara intensif berurusan dengan ummat di lapisan komunitas. Kekecewaan itu telah menempatkan imej negatif bahwa pemerintah yang berkuasa tidak memihak kepada kepentingan ummat Islam.

Ketiga, dalam era kekuasaan Soeharto antara tahun 70-80 an, berlangsung apa yang oleh kalangan Islam dipahami sebagai koalisi sistematis golongan sekuler dan Kristen dengan rezim Soeharto untuk menghancurkan kekuatan politik Islam. Koalisi yang melibatkan militer itu secara sistematis dianggap bermaksud menghancurkan politik Islam yang bertujuan memerangkap tokoh dan politisi Islam tertentu yang dianggap radikal dan keras. Tapi disamping berhasil meredam tokoh Islam garis keras ternyata strategi itu dijalankan dengan cara mengorbankan ummat Islam. Banyak ummat Islam terbunuh dalam politik penghancuran politisi Islam ini melalui beberapa peristiwa yang sampai sekarang terus menerus dikenang dalam pengajian-pengajian di komunitas-komunitas Islam.

Keempat proses kristenisasi ummat Islam tetap berlangsung sekalipun kolonialisme Belanda telah hengkang. Bahkan pada masa rezim Soeharto proses kristenisasi itu dituduh pihak Islam berlangsung lebih sistematis dan lebih dahsyat dibanding pada masa kolonial. Jumlah ummat Islam yang pindah ke agama Kristen semakin banyak, sebagian orang-orang Islam di daerah-daerah Muslim yang kuat, termasuk di Minangkabau, telah berhasil ditembus dan dikristenkan. Kristenisasi ini juga berlangsung tidak lagi dengan cara-cara tradisional seperti memberikan bantuan ekonomi, pendidikan dan kesehatan bagi mereka yang mau pindah agama. Strategi baru yang sudah mulai dijalankan adalah strategi pendekatan kultur dan pemanfaatan kultur yang selama ini sudah dianggap identik dengan Islam, dipakai menjadi simbol bersama dimana pihak Kristen juga menggunakannya sebagai identifikasi diri.

Kelima pemimpin agama Islam dan Kristen gagal menemukan suatu kesepakatan untuk mengurangi ketegangan sebagai akibat dakwah Islam dan misi Kristen yang diperintahkan agama masing-masing. Setelah peristiwa pembakaran gereja di tahun 1967 di Jakarta dan Makassar, pemerintah atas desakan tokoh-tokoh Islam, mengumpulkan semua pemuka agama untuk mencari solusi damai. Tokoh Islam mengajukan usulan agar pemerintah menetapkan peraturan dilarang menyebarkan agama pada ummat yang telah beragama. Pihak Kristen menolak usulan itu karena bertentangan dengan perintah Kristen untuk mengabarkan Injil ke seluruh mahluk. Tuntutan tokoh-tokoh Islam itu terus digulirkan sampai sekarang sebagai salah satu jalan terbaik mengurangi ketegangan, tapi tokoh-tokoh Kristen tertentu sampai sekarang menolak usulan itu, sementara organisasi Kristen tertentu tetap menyebarkan agama Kristen ke kalangan ummat Islam.

Keenam pada masa menjelang berakhirnya rezim Soeharto di tahun 90-an, dalam rangka berusaha melangengkan kekuasaannya, terjadi perubahan politik Soeharto untuk merangkul politisi Islam tertentu. Tapi terdapat reaksi tokoh dan politisi Islam yang lain, diantaranya yang paling keras adalah Abdurrachman Wahid, yang tidak setuju dengan strategi mempolitisir Islam untuk kepentingan kekuasaan. Pada saat itu kalangan militer juga terbagi 2 yakni militer hijau yang mendukung strategi Soeharto di atas, dan militer merah putih yang menolak politisasi Islam untuk kepentingan kekuasaan. Ketegangan di kedua kubu ini sering melahirkan rekayasa kondisional untuk mengarahkan, memungkinkan atau mengembangkan konflik yang memang sangat potensial ada di dalam masyarakat meledak menjadi kerusuhan untuk menyerang ummat, institusi dan rumah ibadat Kristen.

Ketujuh setelah Soeharto jatuh, peran militer dalam politik disingkirkan dan jenderal-jenderal pelangggar HAM dituntut untuk diadili, maka muncul aktor-aktor tertentu, sebagian dari kalangan militer yang terdesak, sebagian dari kalangan rezim lama untuk membuat perlawanan atau penyelamatan diri. Lalu berlangsunglah upaya memanfaatkan keresahan yang ada dikalangan sebagian ummat Islam untuk tujuan dan kepentingan politik jangka pendek. Kerusuhan-kerusuhan antara Islam – Kristen yang meledak secara spontan dipelihara supaya berlarut-larut, dibuat membesar dan tersebar. Kerusuhan baru memanfaatkan potensi konflik yang terpendam didesain dan diledakkan, sikap fundamentalisme terhadap ajaran Islam didukung, diorganisir dan diarahkan sehingga memposisikan sikap fundamentalisme beragama itu untuk menyerang pihak Kristen yang dianggap telah menghancurkan ummat Islam, baik penghancuran secara fisik maupun penghancuran melalui pemurtadan.

Ketujuh sebab itu, sebenarnya merupakan identifikasi kasar dari suatu permasalahan yang sangat rumit dan tumpang tindih. Hadirnya Abdurrachman Wahid sebagai presiden Indonesia yang baru, semula diharap bisa memperbaiki situasi, karena komitmennya pada pluralisme dan cita-citanya untuk menciptakan suasana hidup rukun sesama bangsa tanpa dibatasi oleh perbedaan agama dan keyakinan yang bersangkutan. Tapi presiden yang baru ini terlalu kontroversial dan menghadirkan lebih banyak musuh politik yang riil, dan semakin hari semakin banyak termasuk musuh dari kalangan Islam.

Pernyataan dan komentarnya yang kontroversial tentang peristiwa Ambon, tentang ummat Islam, hubungan Islam-Kristen serta pencabutan peraturan tentang larangan komunisme, terlepas niat baik yang dimaksudnya, ternyata telah membuat kemarahan dan radikalisasi baru di kalangan ummat Islam. Bahkan dari kalangan organisasinya sendiri, yakni NU kini telah timbul kegelisahan atas kontroversi yang diberikan pemimpin yang sebelumnya banyak diharapkan menciptakan kerukunan ini. Kelompok fundamentalisme Islam seperti Laskar Jihad yang sebelumnya tidak begitu kelihatan kini bangkit membesar dan mempunyai alasan untuk melawan. Sulitnya, bangkitnya kelompok fundamentalisme ini mendapat dukungan, atau ada kecenderungan digerakkan juga oleh faksi militer dan kekuatan rezim lama.

Identifikasi yang saya lakukan ini, yang lebih cenderung menampilkan sudut pandang seorang yang berasal dari komunitas Islam, saya harap bisa sedikit membantu memahami kerumitan permasalahan hubungan Islam-Kristen yang kadang, bagi orang-orang Barat nampak berisi peristiwa yang sulit dipercaya dan sulit dimengerti. Agama Islam-Kristen di Indonesia sekarang lebih dominan berfungsi sebagai kekuatan kolektif dan institusional yang sarat dengan agenda ideologis-horizontal.[7] Solusi untuk mengatasi permasalahan ini bisa diajukan bila : A. Pemahaman teologi Islam bergerak searah dengan yang dirumuskan Abdurrachman Wahid. B. Wakil-wakil pemuka semua agama sepakat menciptakan aturan main untuk menghindari ketegangan. C. Ummat Islam tidak menganggap kristenisasi sebagai ancaman. D. Tokoh Kristen tertentu tidak mengutamakan bertambahnya jumlah kuantitatif pemeluk Kristen dengan cara agitatif dan ekspansif. E. Politisi tidak memperalat sentimen agama (Islam) sebagai alat untuk mencapai tujuan politiknya. Tapi dengan sedih harus saya akui, bahwa saya pesimis solusi itu bisa dijalankan. Melihat proses yang sekarang berlangsung di Indonesia, ketegangan dan disharmoni Islam-Kristen menurut perasaan saya sulit diselesaikan dalam waktu dekat ini.


[1] Pengetahuan masakini atas kasus Ambon didasarkan atas bacaan media massa dan interviuw dengan teman-teman dari Ambon, sedangkan untuk Jawa dan Sumatera Utara disamping bacaan juga didasarkan atas pengalaman 4 tahun hidup dalam komunitas Jawa dan sebagai partisipan penduduk Sumatera Utara.

[2] Zending Kristen dari Jerman (Rheinische Mission) mendapat ijin pemerintah Belanda untuk mengkristenkan penduduk pedalaman Sumatera Utara, yakni orang Batak di sekitar Danau Toba dan dilarang menyebarkan Kristen di daerah muslim. Di daerah pesisir timur bermukim orang Melayu yang telah Islam, sementara di sebelah utara terdapat orang Aceh yang juga telah Islam. Di seletan masih animisme, tapi orang Batak Selatan ini kemudian diislamkan oleh pendatang dari Minangkabau yang waktunya bersamaan dengan pengkritenan misionaris Jerman di sebelah utara. Lihat juga Steenbrink (1988,233-250).

[3] Pemihakan pemerintah kolonial Belanda terhadap zending Kristen dibahas dalam disertasi Castle (1972), dan Suminto (1985:15) dan diakui Steenbrik (1988:237).

[4] Disertasi Alwi Shihab (1990) di mengungkapkan bahwa Muhammadiyah terbentuk sebagai respons terhadap meluasnya aktivitas kristenisasi yang didukung pemerintah Belanda.

[5] Partai-partai politik berdasarkan agama, tidak hanya partai-partai Islam tapi juga partai Kristen, disamping partai Komunis dan partai bercorak nasionalis bermunculan dan bertarung dalam pemilihan umum pertama di tahun 1955.

[6] Kegagalan politisi Islam ini telah memacetkan sidang konstituante pada tahun 1959 sehingga atas desakan militer, Presiden Soekarno beralasan untuk membubarkan parlemen yang sah dan memutuskan dengan Dektrit yang kontroversial untuk kembali ke konstitusi UUD 45. Tema ini dibahas secara luas dalam disertasi M.Syafie Maarif (1989) dan Adnan Buyung Nasution (1995).

[7] Komaruddin Hidayat, Paradoks Agama. Tempo, 14 Mei 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: